Seringnya Si ibuk kalo ama anak-anak suka nggak sabaran ...

Kalo ada yang enggak sesuai pada tempat dan hati, si ibuk sering langsung kasih perintah ini perintah itu, suruh ini suruh itu, ingatin ini ingatin itu, de el el ... sampe-sampe kepikiran juga kalo begini terus, anak-anak udah kayak robot aja tinggal nunggu apa yang diperintahkan.

Nahhh, pas banget ketemu artikel di website sebelah yang membahas mengenai ini. Sebenarnya si ibuk udah lama mulai pake strategi di artikel itu, tapiiii ... kalo lagi khilaf yaaaa begitu deh 😁. Paling enggak dengan ketemu artikel ini, si ibuk kembali diingatkan untuk tidak memprogram si sulung dan si bungsu jadi kayak robot. Jadi, tugas si ibuk adalah membantu anak-anak melatih cara pikir mereka sendiri, buat bekal di kemudian hari. Semangaaattt ... 💪💪

Silahkan disimak artikel berikut yang si ibuk terjemahkan secara bebas dari website berikut. Mudah-mudahan dapat bermanfaat.


"Jangan lupa!", kata-kata yang sering saya ucapkan dengan tegas ke anak-anak, tetapi penuh kekhawatiran di hati.

"Jangan lupa masukkan buku musik ke tas untuk les nanti sore."

"Jangan lupa masukkan pakaian kotor ke tempatnya."

"Jangan lupa kembalikan buku-buku ke tempatnya."

Yup, dia pasti akan lupa, dalam pikiranku setelah menyampaikan pesan itu.

Saya mulai menyadari bahwa "jangan lupa" adalah perintah yang sia-sia dan membuang-buang waktu. Seperti kata Leslie Josel, pakar dalam time management saat menjelaskan di podcast Mighty Parenting, "Otak anda adalah otot seperti otot lainnya di tubuh anda. Dan seperti otot lainnya, dia juga perlu dilatih. Jika anda sebagai orang tua selalu memerintah — pergi kesini/kesana sekarang atau nanti jam sekian, jangan lupa botol minumnya, jangan lupa bawa tas olah raga — satu-satunya otak yang dilatih adalah otak anda."

Seharusnya anda membantu mengarahkan agar mereka dapat memikirkan sendiri apa yang seharusnya mereka lakukan. Untuk anak yang masih kecil, dengan pertanyaan sederhana misalnya: "Bagaimana caranya supaya kamu akan ingat?"

Pertanyaan yang akan membuat mereka berhenti sejenak untuk berpikir dan menemukan solusi — skill yang akan mereka perlukan setiap hari, setiap saat, untuk seumur hidupnya. Ketika anda menanyakan "Bagaimana supaya kamu ingat nanti kita ketemuan jam 3 di depan sekolah?", mungkin mereka mengatakan akan mencatatnya di post-it note dan menempelkannya di buku." Ketika anda menanyakan "Bagaimana supaya kamu ingat untuk membawa pulang jaket yang ketinggalan di rumah teman?" mungkin mereka akan menjawab akan segera menyimpannya di dalam tas saat tiba di rumah temannya tersebut.

Kalau dengan anak yang sudah lebih besar dan remaja, Josel suka menanyakan "Apa rencana kamu?" Ini lebih halus dan kedengaran lebih seperti penasaran daripada nyinyir. Contoh lainnya, "Apa rencana kamu untuk menyelesaikan tugas sekolah itu, karena kita akan ke nenek akhir pekan ini?"

"Dengan pertanyaan seperti itu, anda membantu mereka untuk memperhatikan waktu. Anda membantu mereka memperhatikan waktu mendatang. Otak mereka dipaksa untuk memikir kedepan," menurut Josel.

Bisa saja rencana mereka berhasil, bisa saja tidak. Anak anda kemungkinan akan tetap lupa sekali-sekali, menghadapi akibatnya, dan kemudian akan memikirkan rencana yang lebih baik kedepannya. Dangan mengubah bahasa ini, diri anda akan terlepas dari ketergantungan mereka dan dari keberhasilan dan kegagalan di hari-hari mereka. Sekarang semuanya bergantung pada diri mereka masing-masing. Dan anda pun akan menjadi lebih tenang saat mereka melanjutkan dan memikirkan arah kehidupan mereka.

Image by Roy Buri from Pixabay