Si ibuk ketemu artikel tentang no screen time ini, dan ternyata sesuai sama yang pernah si ibuk pelajari di kelas Pendidikan Orang Tua.

No screen untuk anak di bawah 2 tahun karena selain konten yang harus diperhatikan, ada banyak hal yang gak sesuai dengan konsep yang akan didapat anak.  Sebagai salah satu contoh kecil, di film kartun ada karakter yang makan apel besar dengan sekali hap.  Sedangkan di dunia nyata kan gak gitu keadaannya. Mengingat anak-anak hanya memikirkan hal konkrit sampai dengan umur 7 kalo gak salah (duuh kok si ibuk lupa ya ... nanti si ibuk buka bukunya lagi yaaa) dan kemudian baru mulai bergerak ke pemikiran abstrak, jadinya lebih baik di bawah 2 tahun memang no screen at all !  Belum lagi screen time menyebabkan kurangnya interaksi sosial anak.  Padahal kan banyak banget yang harus distimulasi untuk anak-anak.

Sebagai ganti screen time ini, si ibuk harus punya stok kegiatan yang menyenangkan untuk anak. Aaaak pe-er banget sebenernya, soalnya kalo anak lagi sibuk sama screen-nya kan si ibuk bisa "agak istirahat" ­čśČ. ┬áTaapiii demi generasi yang lebih baik, memang kita harus capek sekarang supaya nantinya lebih mudah. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang senang kemudian ­čĺâ­čĺâ ┬áPS: ┬áya tapiii jangan pake sakit dulu juga sih ­čśČ

Diterjemahkan bebas oleh si ayah dari website sebelah ...


Kata WHO, Tidak ada Screen Time untuk Anak di bawah Usia 2 Tahun

Organisasi Kesehatan Dunia alias World Health Organization (WHO) cukup tegas terhadap lamanya waktu menonton TV atau bermain smartphone bagi anak-anak, dan mendorong para orangtua untuk membantu anak mereka agar tetap aktif bergerak dan memperoleh cukup tidur.

Minggu ini, lembaga kesehatan publik dunia tersebut mempublikasikan rekomendasinya mengenai aktivitas fisik dan waktu tidur yang diperlukan bagi anak-anak di bawah usia 5 tahun untuk dapat tetap berada dalam kondisi kesehatan yang prima.  Rekomendasi tersebut mencakup batasan yang ketat terhadap screen time, terutama bagi anak yang berusia di bawah 2 tahun.  Anak-anak yang masih sangat kecil harus dijauhkan dari screen time sama sekali, menurut WHO, sedangkan yang berusia antara 2 dan 5 tahun diperbolehkan hingga maksimal 1 jam per hari.

"Meningkatkan aktivitas fisik, mengurangi waktu duduk, dan menjaga kualitas tidur anak-anak akan memperbaiki kesehatan fisik, mental dan kebugaran, serta membantu mencegah obesitas dan penyakit serupa di kemudian hari," menurut Fiona Bull dari WHO saat mengumumkan rekomendasi tersebut.

Pedoman screen-time WHO lebih ketat daripada rekomendasi lembaga kesehatan publik lainnya.  Contohnya pada tahun 2016, American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan anak-anak di bawah usia 18 bulan untuk tidak mendapatkan screen time sama sekali, sementara yang berusia 2 hingga 5 tahun boleh 1 hingga 2 jam per hari. Tetapi, pedoman tersebut pun tampaknya lebih mempertimbangkan seputar risiko dari screen time, dimana AAP menegaskan kualitas tontonan anak-anak (meteri edukasi atau kartun yang penuh kekerasan) atau apakah mereka berinteraksi dengan orangtua selagi screen time adalah faktor yang lebih penting ketimbang jumlah waktu yang mereka habiskan di depan layar.

Para peneliti berpendapat bahwa pedoman yang fleksibel tersebut pun sebenarnya tidak tepat, karena beberapa hasil penelitian tidak menunjukkan adanya korelasi yang jelas antara peningkatan screen time dengan memburuknya kesehatan seperti depresi, kegelisahan dan insomnia.

WHO memandang pedomannya adalah sebagai acuan untuk meyakinkan agar anak-anak mengembangkan kebiasaan hidup yang sehat sedari dini. Contohnya, pedoman tersebut menyatakan waktu duduk ÔÇô tidak hanya untuk screen time ÔÇô harus dibatasi tidak lebih dari 1 jam dalam satu waktu, dan harus mencakup membaca atau story-telling. Untuk waktu tidur, rekomendasinya yaitu 11-14 jam untuk anak usia 1-2 tahun, dan 10-13 jam untuk anak berusia 3-4 tahun. Anak di atas 1 tahun juga harus beraktivitas fisik 180 menit setiap hari dengan sedikitnya aktivitas fisik yang tergolong moderate-to-intense selama 1 dari 3 jam tersebut.

"Yang paling penting kita lakukan adalah membawa kembali permainan bagi anak-anak," kata Juana Willumsen, focal point WHO mengenai obesitas pada anak dan aktivitas fisik. "Ini adalah mengenai bagaimana mengalihkan dari waktu duduk (atau aktivitas duduk) ke permainan fisik, sementara tetap menjaga waktu tidur mereka."