Warning: Tulisan ini bukan untuk menggurui sama sekali ... hanya share dari ilmu yang didapat di kelas.  Semoga bermanfaaat 😊😊

Hanya dengan  kerlipan mata ke temen di seberang kita sebagai ekspresi tanda kita heran dengan penampilan orang, itu udah termasuk nge-judge.  Padahal kan kita nggak tau ya, dia pake baju yang menurut kita aneh itu karena apa? Mungkin semua jemurannya abis dicuri orang, jadi aja harus keluar rumah pake robek-robek. Mungkin menurut kita aneh, menurut orang lain bisa aja gak aneh, atau mungkin kita yang aneh 😬😬

Tidak men-judge orang seiring dan sejalan dengan menjaga pikiran tetap positive.
Menularkan ini ke anak-anak (supaya tetap berpikiran positif dan nggak nge-judge orang) juga susyeee susye gampaaang cyiin.  Mungkin Bisa dimulai dari enggak melabel anak. Tidak hanya sebatas label satu kata (contoh: nakal, malas, lambat), tapi termasuk juga misalnya saat seorang kakak yang berumur 3 tahun memukul kepala adik bayi ... Instead of bilang: “Jangan pukuuul adiiik yaa sayang,” bisa ngomongnya “apakah kakak mau elus adik? Begini caranya ...” Soalnya kan kita juga nggak pernah tau niat si kakak apa beneran mukul apa emang pengen ngelus tapi gak tau caranya.  Jadi, tetap fokuskan pada kegiatan yang positive.

Atau pernah si ibuk lihat di dapur nggak ada orang, tapi berantakan ampun dijeeh potongan lemon bertebaran di atas meja dan di lantai. Si ibuk langsung bilang: “Siapaaaa inii yang berantakiin dapur ibuk??”  Si bungsu little L nyahut, “adek bu. Tapi bukan mau berantakin, adek mau bikin air lemon buat ibu. Belum selesai, nanti diberesin tadi adek kebelet pipis.”

Ya ampuun, betapa merasa berdosanya si ibuk anak udah bagus bagus mau bikinin minum malah disangka berantakin. Pelajaran apa itu yang udh si ibuk kasih ke si bungsu??

Jadi lagi-lagi si ibuk belajar untuk mengurangi men-judge orang, karena selain gak enak banget di-judge orang, lagipula siapa saya  sampai berhak men-judge orang lain? Hanya Allah SWT yang berhak menilai.

Another note to my self.

Image credit: Shriya Vanparia